Refleksi

Cara Menghargai Sebuah Buku

Adalah dengan tidak membeli buku bajakan. Tapi itu tidak cukup. Tanpa sadar, kita malah sering kali menistakan buku yang kita beli.

Written by Kreta Amura · 1 min read >
Cara Menghargai Buku

Saya termasuk salah seorang yang menempatkan toko buku sebagai tempat pertama yang akan dikunjungi setelah mendapatkan uang. Bahkan, saat tidak ada uang pun saya kadang mengunjungi toko buku. Hanya sekadar untuk melihat buku-buku apa yang baru terbit dan buku mana yang bertahan di display.

Saya sangat menghargai buku dengan tidak pernah membeli versi bajakan dari mereka. Saya membeli mereka sebanyak yang saya mau. Asalkan itu dari uang yang saya hasilkan, serta tidak merugikan baik penulis maupun penerbit dengan membeli versi aslinya.

Tapi belakangan saya sadari, itu bukanlah cara yang benar-benar tepat untuk menghargai sebuah buku, atau karya dalam bentuk buku. Setelah perenungan yang Panjang, saya sampai pada sebuah jawaban yang ternyata amat sederhana.

Bahwa cara termudah untuk menghargai buku adalah dengan membacanya.

Kreta Amura

Banyak dari kita, termasuk saya, akan menjawab kegiatan “membaca” sebagai hobi yang menarik. Tidak jarang kita juga mendaulat diri sebagai seorang pecinta buku. Merasa telah membaca dan menamatkan lebih banyak buku dari orang lain.

Tapi masing-masing kita justru lupa, untuk mencapai hal tersebut, kita telah menelantarkan lebih banyak buku dari orang lain. Di sudut rak yang gelap dan lembap, ada ada banyak sekali buku yang berharap untuk segera dibaca. Teronggok diam, pasrah dan tak berdaya.

Pada satu waktu, mereka hanya akan dijual, disumbangkan ke yayasan, diberikan kepada teman dan kerabat, atau bahkan lebih parah dibakar karena pemiliknya sudah tidak memiliki ketertarikan lagi.

Padahal, satu-satunya orang yang memiliki inisiatif untuk membeli buku tersebut adalah diri kita sendiri. Mengapa kita justru memilih untuk arogan dengan tidak membaca buku yang telah kita beli?

Tatkala menulis hal ini, saya merasa sangat bersalah. Ada banyak sekali buku yang belum saya baca, bahkan saya lupa telah membelinya dan untuk tujuan apa saya membelinya. Saya merasa menjadi seorang yang sangat teledor.

Maka sebagai perwujudan nyata dari keluh kesah dan buah pemikiran di atas, saya sudah mulai membacai mereka. Menghabiskan mereka satu persatu. Saya akui, proses ini kadang menyakitkan. Karena beberapa buku yang saya miliki merupakan buku diskonan dengan kualitas tulisan yang buruk. Tapi saya berusaha menekankan kepada diri saya, bahwa itu adalah bentuk dan cara saya bertanggung jawab terhadap keputusan saya sendiri. Satu cara paling sederhana untuk menghargai buku.

Kelak ketika membeli buku baru, saya tidak akan langsung membacanya. Melainkan membaca satu buku yang belum sempat dan belum berminat saya baca. Dengan begitu, saya bisa segera menghabiskan timbunan buku tak terbaca di rak buku.

Membaca bisa jadi menyenangkan jika kita telah terbiasa. Tapi untuk terbiasa, kadang harus kita lakukan dengan sedikit memaksa.

Saya berharap, dengan menerapkan aturan sedemikian rupa, saya bisa lebih memperhitungkan kebutuhan dan kesanggupan saya dalam membaca buku. Khususnya, melihat kondisi keuangan yang akhir-akhir ini jebol karena diskon buku yang tak terkontrol.

Ilustrasi buku-buku tua via trendingpackaging.com

Written by Kreta Amura
Ada banyak keajaiban yang tercipta dari kesendirian seorang insan. Bayangkan, apa yang bisa dicapai umat manusia dengan suatu kebersamaan? Profile
Peran Penting Perpustakaan bagi Peradaban

Saya dan Perpustakaan

Kreta Amura in Refleksi
  ·   3 min read
Perjumpaan dan Perpisahan

Paket Lengkap Misteri Kehidupan

Kreta Amura in Refleksi
  ·   52 sec read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *