Books

Resensi Novel Sang Keris karya Panji Sukma

Written by Kreta Amura · 3 min read >
Review Novel Sang Keris karya Panji Sukma

Books

Resensi Novel Sang Keris karya Panji Sukma

Written by Kreta Amura · 3 min read >

Saat pergi ke toko buku, biasanya saya telah memiliki list judul yang ingin saya boyong. Pada awalnya, tidak sekali pun saya terpikir untuk membeli buku ini. Meskipun tahu bahwa buku Sang Keris telah terbit dan bisa dibeli di toko buku. Tapi tatkala melihatnya, saya langsung memutuskan untuk memasukkan buku ini ke dalam keranjang.

Saat pulang, saya terheran-heran kepada diri sendiri. Bahkan sampai saat ini, ternyata tebal-tipsnya buku masih sangat mempengaruhi psikologis saya. Buku ini memang sangat mungkin dibuat dalam format buku tebal, dengan sedikit memperbesar font dan trik layouting lainnya. Tapi keputusan penerbit untuk menyajikan buku ini dalam format fisik yang ringkas sungguh keputusan yang bisa saya katakana brilian.

Dengan melihat bentuk fisiknya yang ringkas, serta reputasinya yang tidak bisa diragukan, mungkin banyak orang akan lebih memilih untuk membeli Sang Keris karya Panji Sukma daripada Aib dan Nasib karya Minanto. Bagaimana pun juga, tebal-tipisnya buku memiliki dampak yang besar bagi sebagian orang. Bahkan ternyata, bagi saya sendiri. Dan dalam satu sisi, itu membuat saya kecewa.

Tapi terlepas dari itu semua, kita sudahi pembahasan kurang berfaedah ini dan langsung pada intinya saya. Tapi sebelum itu, sebagaimana biasanya, saya akan melampirkan beberapa informasi dasar terkait buku ini.

JudulSang Keris
PenulisPanji Sukma
PenerbitGramedia Pustaka Utama
CetakanPertama, Februari 2020
GenreSejarah, Fiksi
Halaman110
HargaRp. 65.000,–

Sinopsis

Persis seperti judulnya, Sang Keris menceritakan Riwayat dari sebuah keris. Novel ini diceritakan dengan alur dan narasi yang menurut saya, memang unik. Sehingga bahkan untuk saya sendiri, cukup kesulitan untuk menyusun sinopsis ini. Pada intinya, Sang Keris digambarkan memiliki pemikiran, kehendak, dan berkontribusi terhadap takdir sejarah.

Dimulai dari asal kelahirannya, bagaimana ia sampai pada pemilik pertama, kedua dan seterusnya, hingga ia terlibat dalam rentetan trageri yang menyusun sejarah negeri ini. Yap, negeri ini. Indonesia tentunya. Anda akan mendengar kisah-kisah sejarah populer, hingga cerita rakyat dan legenda seperti kisah Mahabarata, serta ramalan tentang kemunculan ratu adil.

Semua kisah-kisah kuno yang selama ini hanya menjadi mitos seolah terkumpul menjadi satu, dengan Sang Keris sebagai pusat dan benang merah di antara berbagai kisah-kisah penentu sejarah.

Alur dan Latar Cerita

Kompleks sekali, bukan? Memang, dan sekaligus terdengar luar biasa. Sayangnya, anda dipaksa untuk berpikir dan mengira-ngira sendiri latar dan keterkaitan antar bab. Pasalnya, potongan bab disusun dengan alur yang tidak linier, alias berlompatan. Kadang di masa sekarang, masa lalu, bahkan masa yang tidak tahu entah itu kapan. Mungkin masa depan? Selain itu, beberapa bab memiliki hubungan yang samar dengan bab lainnya. Jika pembaca tidak jeli, atau kurang memahami sejarah dan cerita-cerita rakyat—entah itu tentang Mahabarata, kisah raja-raja kuno, dunia per-keris-an, hingga ramalan tentang kedatangan Ratu Adil—mungkin pembaca akan menganggap beberapa bab tidak layak untuk diikut sertakan dalam buku ini, karena tidak ada sangkut-pautnya. Dan itu akan membuat para pembaca kecewa. Pasalnya, tidak semua mengerti tentang latar sejarah, kisah tentang Mahabarata, dunia perkerisan, hingga ramalan tentang datangnya Ratu Adil. Apa yang disampaikan dalam Sang Keris terlalu padat, sehingga beberapa orang menganggap beberapa kisah yang disuguhkan dalam Sang Keris tidak berarti, atau tanpa konteks. Tentu saja, penulis tidak akan mengaitkan sebuah bab jika tidak berkaitan dengan keseluruhan cerita.

Saya sangat suka bagaimana penulis mendeskripsikan setiap kejadian. Penulis benar-benar tahu seluk-beluk per-kerisan, seolah telah mendedikasikan seumur hidupnya untuk mendalami keris dan rumpun kebudayaannya. Satu hal yang dapat saya pelajari dari novel ini: meskipun ia memenangkan Sayembara Novel DKJ 2019, namun proses risetnya mungkin dimulai dua atau bahkan tiga tahun sebelumnya. Kecuali, Panji Sukma memang anak seorang juragan keris.

Jujur, saya kesulitan untuk menentukan kategori dari buku ini. Sepemahaman saya, Sang Keris merupakan fiksi sejarah. Tapi, hal yang membuat saya takjub pada Panji Sukma, adalah bahwa saya tidak tahu pada batas mana saya harus mempercayai narasi sebagai sebuah sejarah, dan sebagai rekaan. Membuat orang yakin apa yang dikatakan merupakan sebuah kebenaran, merupakan kualitas tersendiri sebagai seorang penulis.

Gaya Bahasa dan Sudut Pandang

Selain dari alur dan latar yang random banget, pake banget. Salah satu hal menarik yang akan anda temukan dalam buku ini adalah sudut pandang penulisan. Terkadang menggunakan sudut pandang orang pertama, kedua, ketiga, atau entah ke berapa lagi. Bagi sebagian orang, hal tersebut memang mengganggu. Tapi menurut saya, hal tersebut sah-sah saja. Jika disusun menggunakan alur yang biasa, serta disampaikan dengan jenis narasi yang sudut pandangnya tunggal, cerita Sang Keris akan sangat membosankan. Dalam hal ini, Panji Sukma berhasil menyampaikan sesuatu yang sesungguhnya sederhana menjadi menarik di mata pembaca.

Meskipun tipis, novel ini tergolong rumit. Tapi bukan berarti buruk. Karena sebagian manusia, seperti saya, justru lebih menyukai sesuatu yang rumit untuk dipikirkan, hahah. Tentu saja, buku ini tidak cocok untuk dibaca dengan santuy atau tanpa beban. Terkadang, anda harus membalik dua bab sebelumnya, karena akhirnya berhasil menemukan benang merah yang sengaja disembunyikan oleh penulis. Jadi bagi anda yang merasa buku ini ringan karena tipis, mening urungkan niat untuk membelinya kalau tidak ingin kecewa. Tapi kalau ingin menantang diri sendiri, juga tidak mengapa. Tidak butuh waktu yang lama juga untuk menamatkan buku ini, mungkin satu-dua hari-an. Hitung-hitung latihan.

Penokohan

Saya tidak akan banyak bicara tentang penokohan, karena memang ini bukanlah novel yang melibatkan beberapa tokoh yang selalu muncul dari bab pertama hingga akhir. Lagi pula, tokoh utamanya pun sesungguhnya benda mati. Saya rasa penulis sudah cukup menempatkan masing-masing tokoh pada porsinya.

Siapa yang Harus Membaca Sang Keris

Pertama, bagi anda yang menyukai dunia mistis, ramalan, dan sejarah. Bagi anda yang ingin mulai membaca buku satra atau buku bermuatan berat, tapi tidak mau begitu terbebani dengan jumlah halamannya, buku ini bisa menjadi awal untuk memulainya.

Kesimpulan & Penilaian

Untuk buku yang sangat tipis namun terlalu padat ini, saya hanya akan memberikan nilai 4/5 Secara pribadi, saya suka dengan konten yang ada di dalamnya. Tapi secara objektif bisa saya katakan, bahwa buku ini tidak bisa dinikmati oleh semua kalangan, khususnya orang-orang awam tanpa bekal pengetahuan yang mumpuni tentang sejarah.

Bagaimana menurut kalian? Bagikan pendapat kalian di kolom komentar, ya.

Written by Kreta Amura
Ada banyak keajaiban yang tercipta dari kesendirian seorang insan. Bayangkan, apa yang bisa dicapai umat manusia dengan suatu kebersamaan? Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/kretaamu/public_html/wp-includes/functions.php on line 4979