Movies

Sky Castle: Drama tentang Mirisnya Pendidikan di Korea Selatan

Mulai dari permasalahan yang dihadapi remaja, keluarga, hingga keresahan terhadap isu pendidikan di Korea Selatan.

· 3 min read >

Saya menyadari menonton drama dalam satu sisi dapat membuang-buang waktu, apalagi drama korea yang kerap identik dengan percintaan yang menye-menye. Namun, untuk drama yang satu ini, setidaknya sekali seumur hidup saya menyarankan anda untuk melihatnya.

Sky Castle merupakan sebuah drama dengan 20 episode yang menceritakan tentang kehidupan sekolah serta mirisnya pendidikan di Korea Selatan. Para orang tua, khususnya mereka yang berada di piramida tertinggi sistem sosial masyarakat dan tinggal di sebuah perumahan bernama Sky Castle memiliki obsesi berlebih terhadap pendidikan anak-anak mereka.

Hanya demi ambisi dan tak lebih dari sekedar untuk menyombong diri.

Sky Castle sendiri telah dinobatkan sebagai drama korea dengan rating tertinggi dalam sejarah TV kabel karena berhasil menggali rasa penasaran dan antusiasme penonton mengalahkan rekor Goblin (2016) .

Mungkin saya dan anda adalah satu dari sekian banyak orang yang terlambat menonton serial drama yang satu ini. Tapi percayalah, bahwasanya nilai dan makna yang dibawa dari serial drama Sky Castle akan tetap ada dan relevan untuk masyarakat di masa kini, selama para orang tua terus terobsesi dengan prestasi akademik dan pendidikan anak secara berlebihan.

Meskipun setting dan persoalan yang disorot dari drama ini adalah pendidikan privat di Korea Selatan, namun saya rasa realitas tersebut juga nyata, dan hidup di tengah masyarakat kita. Bahkan, mungkin di seluruh Negara dunia. Hanya saja, taraf dan tingkat keparahan pada masing-masing Negara mungkin bisa berbeda.

Kekurangan dari Drama Korea Sky Castle

Sebagaimana drama korea, dan mungkin drama-drama lain di seluruh dunia, kekurangan yang bisa saya lihat di sini mungkin realitas yang sedikit dilebih-lebihkan. Akan tetapi, hal tersebut tidak mengurangi satu pun nilai yang ingin coba disampaikan oleh serial drama yang satu ini. Lagi pula yang namanya drama, tidak akan menarik tanpa bumbu perasa yang nendang.

Hal lain yang menurut saya juga mengganggu adalah pada sebagian dari Ending drama Sky Castle. Penulis sekenario mungkin pada akhirnya ingin berkata bahwa nilai sekolah dan diterima di universitas bergengsi, atau secara umumnya pendidikan formal bukanlah hal yang menentukan kesuksesan seseorang. Akan tetapi, membuat salah satu tokohnya memutuskan untuk berhenti sekolah, berkelana keliling dunia dengan dalih “mencari jati diri”, padahal sekolahnya tinggal satu semester lagi, menurut saya penyampaian yang sedikit berlebihan.

Realistis saja, bahkan untuk bekerja di luar negeri, setidaknya harus memiliki ijazah SMA. Jika tidak, mau jadi apa?

Pada akhirnya, meskipun nilai, gelar dan ijazah bukanlah penentu kesuksesan, namun pendidikan tetaplah suatu hal yang penting. Hanya saja, kita perlu membuka pikiran seluas-luasnya terkait makna dari pendidikan itu sendiri. Tidak sebatas pada pendidikan formal dengan tujuan nilai, ijazah atau sertifikat kelulusan, namun juga pendidikan non-formal dengan tujuan untuk memanusiakan manusia.

Hal yang Saya Suka dari Drama Sky Castle

Pertama, drama ini menonjolkan sisi kemanusiaan. Seberapa pun kita terobsesi pada kesuksesan dan pendidikan, kita tidak boleh sampai mengorbankan nyawa seseorang. Rasa bersalah yang pada akhirnya membuat salah satu tokohnya menyerahkan rangkaian bukti ke polisi, meskipun sadar masa depan anaknya mungkin akan jadi taruhannya. Bahwasanya apa yang terpenting di dunia ini adalah selalu bersyukur bahwa kita masih diberikan kesempatan hidup dan memperbaiki segala kesalahan dengan penuh kesadaran.

Kedua, drama ini mungkin akan menampar telak sebagian orang tua yang terobsesi dengan pendidikan anaknya. Mereka selalu terlalu percaya diri bahwa pada saatnya nanti, anak-anaknya yang telah sukses karena pendidikan yang keras akan berterima kasih kepada orang tuanya. Nyatanya, tidak sedikit dari mereka justru merasa hampa dan kosong, bahkan meskipun telah dikata berada di puncak segalanya. Mereka telah membuang kesukaan mereka sendiri, jati diri, kepribadian hanya karena ambisi orang tua yang dipaksakan kepadanya. Meskipun terlihat baik-baik saja, anak-anak yang malang ini sebenarnya merasa tertekan. Mereka juga memiliki kehendak, aspirasi, cita-cita yang mungkin tidak bisa diutarakan dan diwujudkan karena terkekang oleh keserakahan dan ketamakan orang tua. Haya demi untuk bisa disombongkan pada orang tua lainnya, untuk dipamerkan, dan untuk memuji diri sendiri karena telah berhasil mendidik anak-anak mereka dengan begitu baik. Nyatanya, dari sudut pandang saya, dan para pemirsa, justru mereka telah gagal menjadi orang tua bagi anak-anaknya.

Ketiga, mungkin saya terlihat sedang menyalahkan orang tua. Akan tetapi sungguh, tidak sekalipun hal tersebut terbesit dalam kepala saya. Melalui drama ini saya sadar, mereka melakukannya juga karena rasa cinta. Hanya dengan pendidikan tinggi, dan memiliki status sosial yang berarti kita baru benar-benar diperlakukan layaknya manusia. Apakah salah jika orang tua menginginkan anaknya agar dihargai dan diperlakukan dengan cara yang terhormat? “Masyarakat yang sakit” mungkin salah satu terminologi yang cocok untuk menggambarkan kondisi ini. Ketika setiap orang terlalu menghiraukan perkataan tetangga, lupa untuk mendengarkan jeritan jiwa-jiwa yang malang dan tertekan. Saat itulah masyarakat kita bisa disebut sebagai masyarakat yang sakit.

Jika saya dihadapkan pada dua pilihan, saya lebih memilih hidup sederhana namun penuh ketenangan dibanding hidup bergelimpangan namun menderita karena resah suatu saat akan kehilangan.

Kreta Amura

Tapi jika memungkinkan, saya berusaha untuk memiliki segalanya tanpa sedikitpun takut kehilangan satu diantaranya, haha.

Siapa yang Harus Menonton Drama Sky Castle?

Bisa saya katakan setiap orang harus menyaksikan drama korea yang satu ini setidaknya sekali seumur hidup mereka. Tidak hanya orang tua yang selama ini selalu memaksa dan menekan anak-anaknya, namun juga calon orang tua, bahkan para siswa agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama, yang dibuat para pendahulunya dan menjadikan hidup mereka begitu kosong dan tanpa makna.

Pada akhirnya, menjalani hidup dengan penuh kesederhaan dan ketenangan adalah yang paling utama.

Poster drama korea Sky Castle via hulkpop.com

2 Replies to “Sky Castle: Drama tentang Mirisnya Pendidikan di Korea Selatan”

  1. Masukkan list sepertinya cocok buat emak anyaran kayak Saya OTB : orang tua baru 😏 sepaham Saya juga mikir gitu apa sich yg di Cari bahagia model apa? Standard sukses bagai Mana? Tapi juga realistis enggak Punya ijazah walau ahli mau masuk perusahaan ya pakek ijazah 😅

Leave a Reply to Uli mayang Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *