Movies

5 Alasan Kenapa Ending Game of Thrones Bikin Saya Kesal

Saya yang dalam seminggu marathone Game of Thrones saja berasa kecewa dan geregetan, apalagi mereka yang telah menanti selama berpuluh purnama.

· 3 min read >
Ngobrolin Ending Game of Thrones

Salah satu hal yang dinanti-nanti dari cerita atau kolosal berseri adalah bagaimana hal tersebut diakhiri. Game of Thrones, merupakan serial televisi dengan 8 (delapan) season yang telah tayang dan menemani para pemirsa selama kurang lebih 8 tahun terakhir.

Akan tetapi, ending atau akhir cerita dari serial televisi yang diadaptasi dari karya George R. R. Martin ini disambut kekecewaan dan kekesalan dari para fans, termasuk saya walaupun baru melihatnya secara marathon seminggu terakhir ini, hahaha.

Bahkan, para fans fanatik dari serial televisi Game of Thrones ini tidak segan-segan untuk mengajukan petisi untuk melakukan remake tehadap episode terakhir Game of Thrones, sementara tentang biaya akan mereka danai secara crowd funding. Saking benci, kesal, dan tidak puasnya para fans ini dengan ending yang, yah, memang sungguh mengesalkan.

Perhatian! Sebelum anda melanjutkan, ulasan ini mengandung spoiler. Bagi anda yang belum menyelesaikan serial tv-nya, dan tidak ingin terpapar spoiler yang akan mengurangi keseruan menonton, harap berhenti membaca sampai di sini!

Lalu, kenapa ending tersebut mengesalkan bagi saya, juga para fans dari seluruh dunia? Berikut setidaknya 5 alasan mengapa ending Game of Thrones membuat banyak para fans, termasuk saya kecewa.

1. Kematian Daenerys yang Begitu Dicintai

Daenerys Targaryen, merupakan salah satu karakter utama dengan pertumbuhan kepribadian yang sangat pesat. Melihat Daenerys tumbuh pada setiap episodenya, para fans dibuat cinta dengan karakter yang satu ini, selain dengan pesona kecantikan alaminya yang memang sudah dari sananya.

Sayangnya, dalam prosesnya pertumbuhan karakternya berubah ke arah yang negatif, khususnya ketika dua anaknya, yang merupakan mahluk mitologi naga, serta pasukan dan sekutu yang dicintainya mati dan terbunuh satu per-satu karena perang di utara maupun selatan.

Premis yang dibangun memang cukup masuk akal. Akan tetapi perubahan Daenerys Targaryen menjadi Mad Queen dirasa terlalu cepat dan tergesa-gesa. Sehingga, para fans melihat Daenerys yang ada pada episode terakhir adalah Daenerys yang berbeda. Sehingga, kematiannya yang dirasa tidak beralasan membuat para fans murka.

2. Queen in The North yang Dibenci

Sansa adalah satu dari sekian sekutu yang tidak menyukai Daenerys sedari awal. Pada episode-episode yang ditampilkan, Sansa sudah terlihat memiliki ambisi untuk menjadi penguasa, seorang ratu, dan kehadiran Daenerys dapat membuat ambisi tersebut hancur berantakan karena Jon Snow memilih untuk tunduk di hadapannya.

Sansa pula lah yang menjadi salah satu penyebab berpalingnya beberapa sekutu kuat seperti Varys pada akhir episode. Sansa membeberkan rahasia bahwa Jon Snow adalah pewaris sah Iron Throne, dan memecah kepercajaan yang terjalin antara Daenerys dan para sekutunya, serta Daenerys dengan kekasih hatinya, Jon Snow. Membuat Daenerys merasa begitu sendiri.

Pada akhir episode, Sansa diperlihatkan berhasil menjadi Queen of The North. Hal tersebut membuat para fans tidak terima. Jika Sansa tidak membocorkan fakta tersebut, mungkin kesedihan dan kesendirian Daenerys tidak akan setinggi itu. Dan dia berhasil menahan amarahnya karena masih memiliki Jon Snow dan beberapa sekutu kuat di sisinya.

3. Kematian Antagonis yang Kurang Epic

Cersei Lannister, dengan berbagai tipu daya dan muslihatnya membuat pertarungan antar berbagai kubu menjadi sangat epic. Dari awal kemunculannya, karakter ini tumbuh dengan begitu mengagumkan sebagai seorang tokoh antagonis.

Tingkahnya, strateginya, serta cara berpikirnya membuat setiap penikmat serial TV ini geram dan gemas. Sayangnya, kematian dan kekalahan dari tokoh antagonis yang satu ini, atau mungkin dapat dikata tokoh antagonis lain seperti Night King terlalu mudah dan sepele.

Cersei meninggal bersama dengan saudaranya, yang juga kekasih hatinya karena tertimpa reruntuhan saat ingin kabur melalui jalan rahasia di Red Keep. Sedangkan fans membutuhkan penghakiman, sebuah adegan yang lebih epic, yang mampu menebus seluruh kesalahan atau kejahatan yang selama ini ia lakukan. Tapi adegan tersebut tidak ada, dan Daenerys puas begitu saja tanpa melihat atau memastikan kematian dari Cersei setelah membumihanguskan seisi kota. Well, kalau saya jadi Daenerys, orang yang pertama saya cari meskipun harus mengeduk seluruh Red Keep adalah orang yang saya benci, Cersei.

4. Terlalu Banyak Menggantung Harapan

Harapan bersatunya kembali House of Targaryen yang kandas di tengah jalan.

Di setiap episode yang berjalan, kita disuguhkan dengan serangkaian ramalan-ramalan akan takdir tiap tokohnya. Sepertihalnya Arya yang ditakdirkan untuk membunuh seseorang dengan mata hijau, yang diprediksi para fans adalah Daenerys. Serta kemunculan pangeran yang dijanjikan, yang mana Jon Snow digadang sebagai kandidat terkuat, namun malah pergi ke utara dan hidup bersama para wildling dan hilang entah kemana.

Episode terakhir diharapkan mampu menjawab dan mewujudkan ramalan-ramalan tersebut, namun sayangnya hal yang di ekspektasikan tidak terjadi. Jika tidak, mengapa pula ramalan tersebut ada? Kecuali, serial ini memang belum berakhir dan masih akan diproduksi kembali.

5. Masih Menyisakan Banyak Pertanyaan

Episode akhir nampaknya tidak benar-benar menjadi akhir dari serial televisi ini. Pasalnya, beberapa adegan pada episode ini justru cukup menggantung para penonton. Sayangnya, berdasarkan pernyataan yang dilayangkan oleh produsernya, Game of Thrones season 8 episode 6 adalah episode terakhir dari serial tv yang satu ini. Mereka memang berencana untuk memperpanjangnya, namun ini adalah batas dari sebuah serial TV. Well, mungkin serial ini harus diproduksi di Indonesia, sampai seluruh tokoh dan karakter yang ada bisa naik haji dua kali.

Apa tujuan Arya berada di King’s Landing? Mengapa Drogon tidak membunuh Jon Snow, alih-alih melenyapkan Iron Throne? Kemana Drogon membawa tubuh Daenerys, apa faedah dari keberadaan Night’s Watch jika Night King telah berhasil di kalahkan? Kenapa Arya pergi ke barat, untuk mengambil kitab suci, kah? Kemana perginya para Dothraki setelah perang? dan yang terakhir, mengapa para pengikut Daenerys, yang notabanenya telah diselamatkan sekaligus pemuja fanatiknya bisa legowo ketika ratu dan penyelamat mereka dibunuh dan dikhianati?


Serial TV Game of Thrones sebenarnya merupakan improvisasi yang dilakukan oleh sutradaran dan penulis sekenario. Dalam novelnya sendiri, Game of Throne belum benar-benar ditamatkan dan masih menyisakan dua seri lainnya untuk diterbitkan kemudian, yaitu The Winds of Winter dan A Dream of Spring. Para kru film sendiri mengaku sangat kesulitan untuk menyusun naskah sekenario, khususnya pada 2 season terakhir karena kurangnya keterangan dan detail yang diberikan oleh George R. R. Martin.

Bagaimanapun juga, tidak mudah untuk dapat menghibur jutaan penonton selama 8 tahun secara berturut-turut. Dengan berbagai prediksi dan bocoran yang dibicarakan oleh banyak orang, kru dan penulis sekenario mungkin kewalahan untuk menghadirkan sebuah ending cerita yang segar dan berbeda. Oleh karenanya, kita harus berpuas diri denga ending GoT. Apa yang sepatutnya berakhir memang harus segera diakhiri. Sebagaimana hubungan yang dipaksakan, yang tak jarang malah membawa penderitaan.

Mudah-mudahan saja, ending dari serial ini melalui media buku dapat lebih memuaskan hasrat dan keingin tahuan para pembaca.

Ilustrasi game of thrones poster diambil dari eoline.com · Gambar latar Jon Snow & Daenerys diambil dan disunting dari latimes.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *